Salah satu hasil karya blogger adalah sebuah buku. Sudah banyak blogger yang membukukan tulisannya dan menjualnya kekhalayak luas, baik yang dicetak oleh penerbit maupun self publishing.
Tentu rasa bangga pasti akan menghinggapi diri kita bila kemudian apa yang kita tuliskan dalam blog kita selama ini menjadi sebuah buku. Buah fikiran kita, tulisan yang terpancar dari cipta rasa yang kita miliki menemukan media “penyebar-luasan” berbeda selain blog yang kita miliki.
Tetapi rasa bangga itu akan segera sirna menjadi tekanan bathin apabila ternyata dikemudian hari buku yang selama ini kita bangga-banggakan ternyata sebagian isi atau seluruhnya adalah hasil karya tulis orang lain, yang selama ini kita berusaha sekuat tenaga untuk menutupnya agar tidak diketahui oleh siapapun.
Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk melakukan hal tersebut, yaitu membukukan hasil karya orang lain menjadi seolah-olah hasil karya kita sendiri. Menjiplak tulisan orang lain dari negeri antah berantah yang kecil kemungkinan orang-orang yang menjadi calon pembeli buku-buku kita tersebut akan mengetahui bahwa buku yang kita terbitkan hasil jiplakan. Hal ini walau masih perlu ditelusuri kebenarannya telah terjadi dan menimpa penulis-penulis ternama dunia.
Tak selamanya penulis-penulis best seller akan terus menghadirkan dan menghasilkan buku best seller lainnya, apalagi seorang blogger. Membeli karya tulis orang lain untuk dijadikan sebagai karya tulis kita adalah hal yang sangat mungkin dilakukan.
Cara lain yang bisa dilakukan adalah meminta pihak lain untuk melaksanakan kegiatan dalam rangka mengumpulkan bahan-bahan tulisan untuk menjadi bagian buku yang akan kita terbitkan, tetapi kita tidak mencantumkan hal tersebut sebagai hasil kerja orang lain/kolaborasi, melainkan kita akui sebagai hasil karya kita.
Apa yang akan terjadi bila blogger melakukan hal tersebut?, mengakui karya orang lain sebagai karyanya sendiri?, tinggal tunggu saja waktu yang akan membukakan tabirnya kepada khalayak ramai dan akan menamatkan riwayat kita sebagai blogger serta mendapatkan cap sebagai blogger pembohong.
Akan sangat menyakitkan bila hal tersebut menimpa kita, padahal kita dikenal sebagai seorang blogger yang baik yang tidak mungkin melakukan hal konyol seperti itu.
Apapun alasan baik yang melandasi kita membukukan hasil karya orang lain sebagai hasil karya kita, tetap saja itu tidak patut untuk dilakukan. Meskipun hal tersebut tidak mendapatkan keuntungan materi atau bukan untuk mendapatkan profit.
Apakah sahabat pernah mengalami atau menyaksikan blogger yang melakukan hal demikian?, mengakui hasil karya orang lain sebagai karya blogger tersebut?, atau malah anda sendiri yang pernah mengalami hal tersebut?. Ada baiknya anda mengungkap hal tersebut agar blogger yang bersangkutan menghentikan perbuatan jahatnya itu.
Kenapa anda harus melakukan itu? karena anda mempunyai tanggung-jawab moral kepada pembaca buku sang blogger tersebut sekaligus kepada sang blogger. Jangan jerumuskan lebih dalam lagi blogger yang bersangkutan kejurang kebohongan. Bila anda mengalami hal tersebut ada baiknya mulai membukannya dengan mengingatkan terlebih dahulu sang blogger untuk menghentikan aktifitas kebohongannya. Bila hal tersebut tak dihiraukan maka langkah selanjutnya dengan mempublikasikan klaim anda atas sebagian atau keseluruhan isi buku sang blogger yang diakui sebagai hasil karyanya.
Pastikan bahwa anda tidak terjerat pasal pencemaran nama baik jika kemudian sang blogger menempuh jalur hukum untuk mempertahankan kredibilitasnya. Siapkan bukti-bukti otentik bahwa karya yang diakui sebagai hasil karya sang blogger adalah hasil karya kita.
” Semoga kita bukan termasuk sebagai blogger yang suka mengakui hasil karya orang lain sebagai hasil karya kita “

kebetulan aku punya pengalaman soal ini.
tapi ceritanya rada panjang…
mending aku posting di sukangeblog aja ya, supaya sekalian bisa update blog, hehehe
ditunggu postingannya bro
Aku pernah nulis dulu di blog tentang sebuah buku, yang aku bantu untuk mewawancarai 4 orang teman- temanku ditambah dengan 1 profileku ( jadi total = 5 ).
Aku wawancara teman- teman yang lokasinya berjauhan, lewat telepon, ada yang langsung.
Di tengah perjalanan, aku sadar, aku bukanlah orang hebat yang pantas untuk buku hebat tersebut. Aku minta kepada penulisnya agar mengeluarkan profileku, pakai teman- temanku saja, mereka memang orang-orang istimewa.
Kemudian aku tak berhubungan lagi dengan sang penulis. Sebut saja sebagai sebuah kisah persabahatan yang pahit karena kebohongan, menyangkut buku itu, dan akumulasi rasa tak percaya karena banyak kebohongan lain.
Ketika buku itu terbit, aku dikirimi karena si penulis janji mau kirim, bagiku yang penting adalah untuk teman- temanku. Aku senyum- senyum saja waktu tahu tak sedikitpun namaku disebut- sebut.
Aku tak mengharapkan terimakasih, tapi sekedar etika intelektual atau apalah namanya aku pikir layaklah dia tulis. Dasar wawancara untuk teman- temanku itu diambil darimana. Lumayan capek bolak- balik wawancara via telepon dan butuh pulsa bukan?
Karena si penulis bilang dia tidak punya uang buat beli pulsa, maka aku bantu wawancara. Tapi apa yang terjadi? Aku kemudian mendapati bahwa pada waktu yang sama dia bisa menelepon seseorang, perempuan yang dekat dengannya.
Aku senyum- senyum saja, sambil berpikir, begitulah manusia, ketika dekat, kita adalah segalanya. Ketika jauh, kita hilang, syukur- syukur gak dijelek- jelekin.
Kenyataannya masalah ini membawa fitnah buatku. Waktu baik dia pernah bilang aku malaikat penolongnya, aku seperti melati, dsb yang baik- baik. Pada buku yang sebelumnya aku hanya kasih saran, malah ada ucapan terima kasih untukku.
Aku sebenarnya senyum aja bahwa dia tak mengakui aku melakukan sesuatu untuk bukunya, sampai waktu anak sulungku bertanya dan membaca beberapa bagian buku itu dan bilang ‘gak boleh/ gak syah itu ma, kan bohong’ dengan dialek Medan.
Anakku protes, katanya “ Gak jujur itu, dia di kota anu ecek- ecek datang ke medan, tangkahan dan padang, melakukan wawancara. Yang lakukan kan mama? “
Aku kepikiran, kemudian menulis tentang hal itu disini. Lebih sebagai renungan untuk diri sendiri, daripada menuding orang lain lebih baik memperbaiki diri.
Eh, rupanya ada yang gak senang, lalu menulis komentar dan protes,merasa lebih berhak atas sang penulis, dan lebih tau. Padahal istrinya aja gak protes dengan tulisanku ( si penulis malah sembunyi di ketiak istrinya, hahay!
Ajaibnya lagi, aku menulis secara general, kok dia yang tersinggung dan merasa lebih tau.
Ternyata urusan dengan komentator ini berbuntut panjang. Dia mengirimiku surat- surat ‘cinta’ berisi tudingan fitnah. Ah, panjang deh, sampai menyusup- menyusup kesana kemari. Ya surat cinta dirinya sendiri. Megalomania kaleee yeee…
Kembali soal buku, aku gak mau dituduh mengaku- ngaku, aku bukan siapa- siapa. Mereka ngaku orang hebat. Memang dia yang nulis, walaupun dasar wawancara yang aku buat ada disana. Lagian mereka ( penulis dan pembelanya, si komentator itu) ngaku mereka orang top.
Yang satu ngaku cantik dan hebat, walau yah… hahahahaha… orang bisa liat secantik apa dan sepintar apa dia. Mau dibilang penulis terkenal koq ya gak nemu ya bahasan- bahasan buku best seller itu dimanapun?
Aku tak menuding, tapi orang bisa menilai, sebuah buku yang isinya katanya adalah panutan dan ajaran- ajaran kebaikan ditulis dengan dusta dan cara- cara bohong, bukankah itu munafik?
Aku tak sedikitpun bercerita pada teman- temanku tentang yang terjadi pada hubungan aku dan dia. Dimata mereka dia tetap baik, bahkan mereka minta nomor HP-nya pada aku.
Aku minta sang penulis menghubungi teman- temanku itu, tapi dia tidak menghubungi sama sekali. Setidaknya dia tidak menghubungi pada saat awal buku itu terbit. Gak tau juga belakangan ya. Ada orang sok tau yang suka mendekati teman- temanku, orang- orang dekatku. Mungkin juga dia sudah pake taktik itu terhadap mereka. Dekati, kalau bersebrangan, musuhi. Aku sih gak khawatir, teman sejati tinggal, yang palsu pergi.
pengalamanku jadi kontributor udah tayang bro
ok meluncur ke tkp